Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Ada Apa Di Dalam Masjid Raya


Apa Yang Bisa Kita Lihat dan Kita Dapat Didalam Mesjid Raya?
Sebagian yang standar imannya pasti akan menjawab: kemegahan dan keindahan arsitekturnya. Tempat yang “sejuk” untuk disinggahi. Sebagian yang imannya di atas standart mungkin akan menjawab : ketaatan dan kekaguman akan Allah. Tempat yang khusyuk untuk beribadah.

Lantas bagaimana jawaban yang imannya (mungkin) dibawah standar seperti saya? Berikut ulasannya. Saat itu didalam Mesjid raya saya sedang memilih lokasi yang sedikit enak untuk Shalat; tanpa perlu tau siapa orang-orang di sekeliling.(akibat terlalu yakin mereka tidak akan mempengaruhi kekhusyukan shalat saya nantinya).

Baca juga : Anggota-anggota AFTA

Ketika memakai mukena tak sengaja saya melihat kedepan.Ada seorang perempuan muda yang telah siap shalat asik membenarkan mukena yang masih menutupinya, melalui kamera depan Smartphone miliknya.Di tariknya mukena sedikit kebelakang dan kesamping secara berulang-ulang. Kedua bibirnya ditekan-tekan agar tampak merona, mencoba tersenyum seaduhai mungkin. Dan ketika sudah merasa cukup cantik, dia-pun siap menaikkan Smartphone besarnya itu, mengambil angle terbaik untuk selfi. Skema tsb (benerin mukena-pasang muka cantik-jepret) berulang-ulang kali yang dilakukannya membuat saya geli sendiri.
Ah, perempuan!.

Saya pun mulai shalat, sambil sesekali “TER”lihat tingkahnya itu yang belum tau kapan usainya walau sudah tembus angka belasan jepretan. Siap saya shalat ternyata si perempuan muda belum juga siap dengan selfienya yang membabi buta itu. Alamak..ini pasti sudah tembus puluhan fotonya, dengan pose yang sama pula Ah, melihatnya di depan bikin pusing mata. Saya pun beralih melihat ke samping kanan, kali ada yang saya kenal.

Rupanya adegan yang sama juga tengah “live”dengan pemain yang berbeda, namun tetap dari jenis yang sama: Perempuan, tepatnya 2 perempuanS (1pemeran utama + pemeran pembantu) Kali ini tampak lebih modis pakaiannya, anak kuliahan. Bak fotografer senior, sang pemeran pembantu (membantu fotoin) duduk melipat badannya -hingga sudah mirip orang sujud- demi mendapatkan gambar terbaik dan tercantik dari sang pemeran utama yang tengah berdiri, berpose seolah hendak berjalan (dengan tangan kanan mengibaskan roknya nan kembang, sementara tangan kiri memegang ujung jilbab). Bak model senior dia pun ia membenarkan kemiringan kepalanya, demi pose menatap kubah mesjid dengan penuh takjub; tampak takjub dan tampak cantik pastinya.

Dan kali ini tak kalah seru, skema juga berulang-ulang, bahkan pemain berulang kali bertukar peran. Sebelum keluar mereka sempatkan diri melihat galeri Smartphone masing-masing. Kemudian terkekeh-kekeh melihat hasil ‘ibadah’ mereka di mesjid. Pusing Hidung Barbie. Tayangan belum berakhir, ketika hendak pulang saya pun putar arah ke belakang. Serupa tapi tak sama; ada adegan selfian berjamaah. Ah sudahlah, saya tak sanggup lagi menikmati tayangan serupa. Karena 3 tayangan tadi sudah membuat saya cukup paham kenapa Islam tidak menganjurkan para perempuan Shalat di Mesjid..
Maka untuk kali ini, Jika ditanya apa yang saya lihat dan dapatkan di dalam Mesjid Raya?
Maka jawabnya :

“Saya lihat tayangan selfie di segala arah mata angin, dan saya dapatkan ketidak husyukan.”

Semoga kedepan para akhwat lebih memperhatikan dirinya, bahwa dirinya sebenarnya adalah fitanha yang dahsyat untuk kaum lelaki, sehingga para wanita seharusnya malu untuk berdandan dan berhias di dapan umum. seharusnya mereka berhias ketika berada dirumah. berhias secantik mungkin untuk suami mereka tercinta.

Baca juga : Pengertian dari ASEAN

apa lagi yang saya lihat ini adalah untuk selfie. dan apa gunanya?? tentu saja foto hasil selfie tersebut akan digunakan di social media. mereka akan mempertontonkan kecantikan mereka di social media. Naudzubillah... Semoga Alloh senantiasa menjaga diri kita dari fitnah wanita.

Ciri-Ciri Orang Sholeh


Siapakah Orang Shaleh Itu?Tidak diragukan lagi, setiap orang apapun latar belakangnya, apa pun profesinya, dan dimana pun ia tinggal, pasti memiliki keinginan menjadi orang shaleh. Ada macam kepastian, atau lebih tepatnya semacam (garansi) yang diklaim dalam benaknnya bahwa kalau sudah menjadi orang shaleh , keselamatan dunia akan terjamin, lebih-lebih keselamatan di akhirat nanti. Akhirnya banyak cara yang dilakukan agar menjadi orang sholeh atau hanya sekedar mendapat pengakuan sebagai orang yang sholih.

Oleh karena itu, banyak dilakukan oleh orang tua agar memiliki anak yang sholih, mulai dari mendidik sendiri di rumah, dengan berbagai pendekatan tentunya, dititipkan di sekolah yang bagus, ditambah lagi dengan ikut pengajian di mesjid.

Baca juga : Gambaran Surga Menurut Al-Quran dan Hadist

Bahkan, kalau dirasa belum cukup, tidak tanggung-tanggung untuk memanggil guru agamanya ke rumah. Apa yang dilakukan oleh orang tua tersebut tidak salah, semua orang pasti mendambakan seorang anak yang berkepribadian baik, taat kepada orantua, berahlak karimah, rajin dan sifat baik yang lainnya. Mereka mempunyai anggapan kalau anaknya telah berbuat demikian, mereka telah menjadi anak yang sholeh. Benar ataupun salah anggapan itu, yang jelas orang tua akan merasa bangga jika melihat anak yang berkarakter seperti itu.

Kata sholih bukanlah istilah yang asing ditelinga kita. Setiap pekerjaan yang kita anggap baik, seperti membuang sampah pada tempatnya, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak yatim dan semua amal baik lainnya, sering kita identikan dengan amal orang sholih. Bahkan, istilah sholeh sendiri sering digunakan sebagai lawan dari sifat jahat, durhaka, nakal, dan sifat buruk lainnya. Apabila ada anak yang sopan kepada Ibu dan Bapaknya, menghormati yang lebih tua dan menghargai sesamanya, sepontan kita menyebut sebagai anak yang sholih. Sebaliknya ada anak yang durhaka kepada orangtuanya, sering mengganggu temannya atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, kita pun sering menyebutnya sebagai anak yang tidak saleh atau salah. Saleh tidaknya seorang diukur oleh seberapa banyak perbuatan baik yang dilakukan, baik untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.

Ciri-ciri Orang Sholih

Lalu bagaimanakah ciri-ciri orang yang sholih itu?  Nabi Muhammad SAW Bersabda kepada Ali Bin Abi Tholib RA :
"Wahai Ali! Tanda-tanda (ciri-ciri) orang soleh itu ada tiga :
  1. Selalu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. melalui amal soleh
  2. Selalu memperbaiki agamanya dengan beramal sholeh.
  3. Selau Ikhlas Meridhoi apa yang sudah ditakdirkan oleh-Nya"

Demikian artikel tentang ciri-ciri orang sholih, semoga dengan ini kita dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang sholih sehingga negara kita tercinta ini dapat diteruskan dan diperjuangkan dengan generasi muda yang berahklak baik dan mengerti tentang Agama. Karena Agama merupakan benteng Ahklak nomer satu. Semoga bermanfaat untuk para pembaca semua

Pendeta Saifudin Ibrahim Terbaru


Pendeta Saifudin Ibrahim Terbaru-Pendeta Saifudin Ibrahim adalah pendeta yang lahir pada tanggal 26 Oktober 1965 di Bima, Nusa Tenggara Barat, merilis buku yang berjudul “Dialog Kristen-Islam” (Penerbit Amanat Agung Indonesia, Januari 2015). Pendeta Saifudin Ibrahim gencar menyebarkan misi agar umat Islam mengikuti jejaknya untuk meninggalkan Islam menjadi pemeluk Kristen. Dalam kata pengantar di alinea pertama pada bukunya, jelas sangat terang-terangan ia menantang bahwa buku ini ditulis dengan target khusus untuk umat Islam yang ia istilahkan sebagai “keturunan Israel”.


Pendeta Saifudin Ibrahim Terbaru

Untuk meyakinkan pembaca, Pendeta Saifudin menuliskan sederet akademis sebelum menjadi pendeta, yakni : pernah kuliah di Ushuluddin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kuliah Bahasa Arab, komunikasi, kuliah di STT jurusan Theologi. Dan ia juga menyebut bahasa Arab sebagai bahasa keduanya.

Pendeta Saifudin mengaku bahwa alasannya meninggalkan Islam karena adanya kewajiban sholat yang sangat memberatkan, seperti yang dia ungkap pada bukunya, “Ibadahnya harus memakai bahasa Arab, yang tidak dimengerti oleh mereka sendiri. Mau praktik juga susah, orang Islam sendiri juga akan putus asa kalau mengikuti dengan taat. Mulai dari shalat? Orang Islam sendiri jarang yang shalat. Gak shalat masuk neraka, kalau shalat gak sempat… Dan ibadah yang paling sulit adalah shalat” (halaman 9).

Ibadah shalat yang dilakukan adalah salah satu kehebatan Islam yang tidak dimiliki Kristen karen Islam bisa beribadah shalat meneladani tuntunan Nabi Muhammad Saw yang ritualnya ditentukan secara tauqify baik gerakan, bacaan maupun syarat dan rukunnya. Hal ini jelas berbeda dengan umat Kristen yang tidak punya pegangan ibadah yang sesuai dengan teladan Yesus Kristus. Karena Alkitab (Bibel) baik Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, sama sekali tidak mencatat ritual ibadah Yesus secara detil.
Pendeta Saifudin Ibrahim memiliki nama baptis Saifudin Abraham, ia menuduh bahwa Alquran penuh dengan pertentangan ayat yang tidak bisa dijawab oleh para ulama maupun ahli tafsir Alquran.

Di dalam bukunya, Saifudin Ibrahim dalam bab 8, ‘Perkawinan-perkawinan Muhammad’, ia menuduh bahwa Rasulullah adalah budak nafsu dan dibahas pula istrinya satu per satu. Selain itu, ia juga melecehkan syariat ibadah haji yang ditulis sebagai berikut, “Naik haji hanya bagi yang mampu. Muhammad bersabda demikian, “Al-hajjum mabruurun laisa lahu illal jannah,” artinya: orang naik haji mabrur balasannya adalah surga.” Gak mampu ya gigit jari” (halaman. 10).

Tulisan tersebut jelas salah karena arti kutipan hadist tersebut adalah, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw  bersabda : “Haji yang mabrur tidak balasan baginya kecuali surga” (HR. Bukhari dan Muslim) yang tertulis dalam hadits itu adalah sebagai berikut: “Al-hajju al-mabruuru laisa lahu jazaa’un illa al-jannah” atau “Al-hajjul-mabruuru laisa lahu jazaa’un illal jannah.”
Menulis kata “al-hajju” dengan “al-hajjum” jelas salah karena kata nakirah (yang diawali dengan al tidak bisa ditanwin). Menulis “al-mabruuru” dengan “mabruurun” juga mempertegas kesalahannya karena struktur kata ini adalah sebagai “na’at” yang harus memakai “al” dan tidak ditanwin, mengikuti (tabi’) kepada man’ut. Selain itu, menghilangkan kata “jazaa’un” dalam hadits tersebut semakin menambah daftar kesalahan pada buku yang ditulis Pendeta Saifudin Ibrahim, karena membuat terjemah hadits menjadi pincang.

Baca Juga : Sejarah kerajaan islam di indonesia

Pendeta Saifudin Ibrahim diajak kembali oleh anak-anaknya, Fikri Khoemini, Saddam Hussein, dan Moammar Khadafi untuk memeluk Islam. Namun Saifudin Ibrahim yang sudah yakin dengan imannya menyanggah ajakan anak-anaknya tersebut. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan kembali kepada Islam lagi karena saat ini sudah menemukan kbenaran, yaitu Yesus Kristus. Nauzubillah.. semoga beliau bisa mendapatkan hidayah kembali sebelum ajal menjemput. Aamiin

Berikut Video tentang Pendeta Saifudin Ibrahim Terbaru yang mengajak orang untuk meneinggalkan ajaran islam


Kisah Pendeta Saifudin Murtadkan Umat


Kisah Pendeta Saifudin Murtadkan Umat-
Saifuddin Ibrahim yang sudah dibaptis dengan nama Abraham merupakan ayah dari 3 orang anak. Dia bergelar Kyai Haji dan merupakan Guru Besar Universitas Muhammadiyah yang meninggalkan jabatan dan beralih memeluk agama Kristen. Istrinya terkejut dan menangis selama berhari-hari, dan berkata kepada Saifudin yang dia utarakan dengan bahasa Jawa, “Kamu pikir kamu itu siapa? Kowe itu Kyai! Kok iso-isone dadi wong Kristen? (Kamu itu Kyai! Kok bisa-bisanya jadi orang Kristen?).

Saat putranya yang bernama Saddam Hussein mengetahui ayahnya sudah memeluk agama Kristen, Saddam bertanya, “Mengapa Ayah masuk Kristen?” Syaifudin memberi alasan kepada anaknya. Dan alasan meninggalkan Islam juga disebutkan Syaifudin dalam dua bukunya yang ia tulis sendiri yang berjudul : Kenapa Saya Memilih Kristus (KSMK) dan Dialog dengan Saddam Husein (DDSH).

Kisah Pendeta Saifudin Murtadkan Umat

Saifudin Ibrahim lahir dan besar dari keluarga Muslim dan ayahnya adalah seorang guru agama. Pamannya adalah seorang pendiri Muhammadiyah di Bima dan mertuanya adalah tokoh Islam di Kota Jepara.

Saifudin lulus dari SMA di Bima, Nusa Tenggara Barat dan kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama. Setelah lulus kuliah ia menjadi pengajar di Bangsri Jepara pada tahun 1996, dan mengajar di Pesantren Darul Arqom Sawangan, Depok, Jawa Barat. Pada tahun 1999, Saifudin mulai mengajar NII Al Zaytun Panji Gumilang di Haurgeulis, Indramayu yang merupakan pesantren terbesar di Indonesia dan memiliki masjid yang bisa menampung 150.000 orang. Selama 6 tahun ia mengajar Al Quran, Hadist, aqidah, akhlak, sejarah kebudayaan Islam, dan jurnalistik.

Saifudin merupakan dewan guru yang paling dikenal oleh para santri dan wali santri. Selain itu, dia juga dikenal baik oleh masyarakat Haurgeulis, Indramayu. Saifudin juga dikenal sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah yang sangat aktif menyerang Kristianiti. Namun saat ia mulai kuliah di Universitas Muhammadiyah, ia mulai mempelajari isi Alkitab yang puncaknya di akhir bulan November 2005, setelah 6 tahun menjadi dewan guru pesantren Al Zaytun Panji Gumilang, ia dihadiahi Alkitab oleh para tamunya sebanyak 1.400 buah. Tamu-tamu tersebut adalah orang dari The Gideon International cabang Jakarta dan Cirebon. Dan saat itulah Saifudin mulai tertarik ajaran Kristen.

Pada tanggal 4 Maret 2006, lebih tepatnya kurang dari 3 bulan, ia berangkat dari Indramayu ke Cirebon untuk minta dilayani bagaimana cara menjadi orang Kristen. Ada 18 orang yang menunggunya di dalam rumah, mereka dari Semarang, Cilacap, Cirebon, dan Jakarta. Saat mulai duduk, Saifudin ditanya berbagai macam hal. Ia merasa hampir saja gagal menjadi Kristen saat ada pertanyaan yang membuatnya naik darah, “Apa agama yang membuat orang selamat dan masuk sorga?” Saifudin kebingungan untuk menjawab dan memutuskan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menjawab, “Pak, saya ini orang buta, tuntun saya terima Yesus, sudah, jangan tanya macam-macam.” Tanpa ia sadari, jawaban yang dia lontarkan membuat semua yang mendengar menjadi terkesima dan tidak menanyakan apapun lagi. Mereka tiba-tiba menarik Saifudin ke ruang sebelah untuk membuat surat pernyataan di atas materai 6000. Setelah itu, pada jam 5, mereka semua berdoa bersama-sama.

Itulah kisah pendeta Saifudin murtadkan umat yang bisa kami sampaikan. Semoga informasi yang kami sampaikan bermanfaat untuk Anda. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel kami. 

Rukun Iman Di Dalam Agama Islam Ada 6 Yaitu


Rukun iman ada 6 - Saudara muslim dan muslimat yang Insya'Alloh diRahmati oleh Alloh Subhanahuwata'ala, Di dalam agama islam ada sebuah syarat agar tauhid kita sebagai seorang Muslim dapat bediri tegak dan kokoh, Ibarat sebuah bangunan, Pondasi merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dan di tinggalkan, jika ingin bangunan tersebut dapat berdiri dengan tegak dan tidak mudah roboh.

Maka di dalam agama Islam, Pondasi tersebut adalah Rukun Iman. Seorang islam belum dapat di katakan muslim, jika dia tidak meyakini 6 rukun iman tersebut. Bahkan orang yang sudah lama melakukan, Sholat, Puasa, Bahkan pergi Haji ke Mekkah, tidak dapat dikatakan muslim jika tidak mau meyakini rukun iman tersebut.

Pengertian Rukun Iman

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang rukun iman, maka terlebih dahulu kita bahas tentang pengertian Rukun iman itu sendiri. Seperti yang telah kita baca di dalam Al-Quran bahwa iman adalah dasar bagi keimanan seseorang untuk masuk ke dalam agama samawi ini :
QS.Al-Baqarah, yang artinya; : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi .” (QS Al Baqarah: 177).

Nabi Muhammad Saw pernah bertanya kepada Malaikat Jibril tentang Rukun Iman dan beliau (Jibril) menjawab : “ Iman itu adlah kamu beriman kpd Alloh Swt, Malaikat-Malaikatnya, Kitab – Kitabnya, Rosul – Rosulnya, Hari akhir serta kamu beriman kpd Qodo dan Qadar yg baik maupun yg buruk (HR. Muslim)”.

Rukun Iman Ada 6 Yaitu :

1. Iman kepada Alloh
Orang yang ingin memeluk agama islam yang pertama haruslah mempercayai (mengimani) bahwa zat Alloh itu memang ada, segala sesutau yang ada di bumi ini pasti ada yang menciptakan, dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini juga Allohlah yang berkehendak. Jika rukun iman yang pertama ini saja sudah tidak yakin maka secara otomatis orang tersebut telah keluar dari agama Islam.

baca juga : indahnya gambaran surga Alloh SWT

2. Iman kepada malaikat-malaikat Alloh
Selain manusia, Alloh juga menciptakan jin dan malaikat, dan pada Rukun iman yang ke 2 ini adalah iman kepada malaikat. maka syarat selanjutnya untuk bisa memeluk agama islam dengan kaffah adalah kita harus mempercayai atau mengimani bahwa malaikat adalah mahkluk Alloh yang benar adanya, kita harus meyakini bahwa Alloh menciptakan malaikat yang senantiasa patuh dan taat terhadap perintah Alloh. dan sedikitpun tidak pernah durhaka kepada perintah Alloh. Meyakini Malaikat diciptakan dari cahaya.
Keharusan untuk meyakini malaikat ini sejalan dengan apa yang telah Allah firmankan di dalam Kitab suci umat Islam : “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada memiliki rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya” (QS. Al-Anbiya: 19-20).

3. Iman kepada Kitab-kitab Alloh
Rukun Iman selanjutnya ialah Iman kepada kitab-kitab Alloh. Sebagai seorang muslim sejati di sini kita dituntut untuk meyakini bahwa Alloh telah menurunkan beberapa kita kepada para utusanya. ada pendapat bahwa kitab yang telah Alloh turunkan ada banyak, namun kita di berikan tugas untuk mempercayai dan mengimani 4 kitab, yaitu : Taurot, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an. kita juga harus percaya bahwa Al-Qur'anlah kitab terakhir yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. dan menyempurnakan perintah Alloh Melalui Al-Quran dan Nabi Mhamad SAW.

4. Iman kepada Rosul-Rosul Alloh
Alloh telah memilih salah satu dari hambanya yang terbik di setiap generasi untuk menyampaikan kepada hambanya tentang tauhid. Menolong hambanaya agar tau tentang jalan kebenaran melalui perantara para utusanya yaitu para Rosul Alloh. Maka dengan ini kita juga harus mempercayai dan mengimani bahwa Benar adanya jika Alloh telah mengutus para Rosul tersebut untuk menyampaikan kebenaran tentang keberadaan Tuhan yang Esa, Tidak ada yang petut di sembah selain-Nya, dan tidak ada satu mehkluk yang dapat menandingi-Nya. Dan Alloh telah menjelaskan juga di dalam Al-Qur'an :
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahhyu  kepadamu (Muhamad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud” (QS. An Nisa:163).

5. Iman kepada hari akhir (Kiamat)
Tidak ada satupun mahkluk yang hidup di dunia ini yang mengetahui tentang hari akhir (kiamat), bahkan malaikat yang merupakan mahkluk paling dekat dan patuh kepada Alloh juga tidak mengetahui sama sekali tentang kapan terjadinya hari kiamat. Namun disini kita sebagai seorang muslim dituntut untuk meyakini bahwa hari akhir atau kiamat ini adalah benar adanya.

Nabi terakhir Muhamad sebenarnya juga tidak mengetahui kapan hari kiamat ini akan terjadi, namun beliau diberikan keistimewaan oleh Alloh tentang kapan hari kiamat itu terjadi dengan mengetahui tentang tanda-tanda hari kimat. Tugas kita adalah meyakini tentang hari kiamat dan mempersiapkan diri untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala, guna menghadapi hari dimana semua amal kebaikan kita akan di timbang di yaumul mizan.

6. iman kepada Qodo' dan Qodar (takdir baik dan takdir buruk)
Rukun iman yang ke 6 yaitu iman kepada nasib baik dan nasib buruk. Sebagai seorang muslim yang taat merupakan suatu perkara yang istimewa, karena sedih ataupun senang, bersedih ataupun gembira merupakan sesuatu yang telah Alloh gariskan kepada kita selaku umatnya. jika kita bersabar atas kesedihan maka kita merupakan hambanya yang taat, dan jika kita bersyukur atas kenikmatan dan kesenangan yang telah alloh berikan maka kita juga merupakan hambanya yang taat.

Selama kita tidak takabaur dan berputus-asa terhadap rahmat Alloh, maka segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terhadap diri kita adalah perkara yang akan menghantarkan kita kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Demikian pembahasan kita kali ini tentang 6 Rukun iman yang wajib kita jaga di dalam hati kita, agar iman kita tidak mudah goyah dengan berbagai godaan ataupun ujian. jika kita mengingkari satu saja rukun iman yang tersebut di atas, maka iman kita (islam kita) sudah cacat dan ternoda. dan untuk adik-adiku tercinta, jika ada pertanyaan "Rukun iman ada 6 sebutkan?!" maka kalian sekarang dapat menjawabnya hehe

maka saran dan nasehat penulis untuk saudara seiman yang membaca artikel ini dan diri sendiri (terkhusus), karena iman itu dapat naik dan turun, bertambah dan berkurang, hendaknya kita selalu menjaga iman kita dengan mengikuti kajian-kajian secara rutin dan secara berkala. sehingga di zaman akhir yang penuh fitnah ini, kita tetap bisa berada di atas jalan Lurus, yaitu jalan yuang diridhoi oleh Alloh SWT. Amiin.. jangan lupa untuk share artikel ini kepada teman dan kerabat anda!