Buku Perekat Kasih Sayang Keluarga

BENARLAH apa yang dikemukakan oleh Christopher Morley bahwa ketika kita menjual kepada seseorang sebuah buku, sebenarnya kita tak hanya menjual 12 ons kertas dan tinta sekaligus lem, akan tetapi kita menjual sebuah kehidupan baru yang lengkap. Apa yang dikemukakan Morley sekaitan dengan pengalaman saya sebagai penulis dan penggerak membaca menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh bagi anak-anak yang gemar membaca sejak dini bisa memberikan pengalaman yang begitu besar dalam dirinya. Selain memberikan kelengkapan menjadi manusia yang utuh, membaca juga sekaligus menjadi suplemen bagi anak-anak.

Baca juga : Pengertian E-learning

Apa yang menarik dari kebiasaan anak-anak membaca buku? Anak-anak yang gemar membaca buku sejak dini bebas memilih tokoh-tokoh dan sahabat imajiner dari sebuah buku yang dibacanya. Bisa saja buku-buku yang dibaca memberikan inspirasi bagi anak-anak untuk membangun dunia ideal dalam diri dan kehidupan sehari-harinya. Misalnya saja, belajar berhubungan dengan sesama mereka, juga dengan membaca buku bisa mengenalkan bagaimana sebuah nilai-nilai berkembang dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sastrawan terkemuka, Taufiq Ismail pernah mengusulkan agar siswa siswi diberikan tugas untuk membaca buku-buku bernilai sastra, tujuannya adalah selain menjadikan mereka menjadi sastrawan juga mengembangkan kebiasaan membaca dalam diri siswa-siswi. Dengan demikian pengalaman membaca bisa saja dipadatkan dalam karya estetis berupa puisi, cerpen, novel dan drama dapat memperkaya suasana kebatinan anak-anak.

Karena itu, kebiasaan membaca bisa memberikan berbagai perspektif pada diri anak-anak. Contohnya, dalam berbagai buku yang berpandangan tentang kehidupan menunjukkan bagaimana sebuah proses pandangan bisa mengkristal, dari sinilah anak-anak dibiasakan memahami situasi dan masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tegasnya, dari sebuah buku yang dibaca anak-anak bisa diperoleh gizi yang diperlukan anak-anak untuk tumbuhnya kepribadian yang sehat. Hanya anak-anak yang memiliki kebiasaan membaca sejak dini bias lebih menguasai diri dan lingkungan sekelililingnnya. Selain punya kemampuan adaptasi yang tinggi, mereka juga biasanya punya keterampilan berkomunikasi yang idela jika saja dibandingkan sebanyanya yang tak doyan membaca buku. Karenanya Collier mengungkapkan dalam kalimatnya seperti yang diharapkan agar tumbuh anak-anak dengan selalu makan, diharapkan pula tumbuh semakin bijaksana dengan kebiasaan membaca anak-anak.

Baca juga : Lagu-lagu Daerah Indonesia

Sebagai motivator membaca, saya melihat anak-anak yang terbiasa membaca buku akan memperoleh ribuan pola kehidupan yang berbeda. Misalnya saja, ada yang kompleks dan sarat pertimbangan, jika saja sebuah televisi menggambarkan persoalan kehidupan disajikan simplisistis dan terkesan seronok, dalam sebuah buku dikaji dalam berbagai sudut pandang.

Hal inilah membuat anak-anak yang gemar membaca buku memicu mereka lebih lebih memiliki kasih sayang. Bukankah buku bisa memberikan kasih sayang bagi pembacanya? Benar karena selain buku menunjukkan esensi kasih sayang, juga memahami pandangan orang lain adalah juga bagian dari kasih sayang, menerima kelebihan dan perbedaan. Buku adalah perekat kasih sayang bagi anak-anak, orang tua, masyarakat dan sesame umat manusia. Karena itulah, buku adalah produk intelektual sekaligus produk industri yang bisa menjadi perekat dan jalan keluar bagi setiap persoalan yang muncul di tengah-tengah keluarga. Bukankah kita butuh figur keluarga sayang buku?

Semoga menjadikan inspirasi untuk kita dan keluarga

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

Newest Post
Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser
Newest Post